Selamat Pagi, masalalu. Aku terbangun kembali di Pagi yang cerah, terbangun dari malam yang panjang, yang kulewati hanya memikirkanmu. Bukan langit kamar yang pertama kali kulihat, bukan juga bantal atau guling empuk yang terasa, tapi kamu; si masalalu penyejuk hati, si pengganggu pikiran. Hampir setiap kumelihat layar handphoneku, yang terpikir hanyalah dirimu, hanyalah kabarmu. Aku tahu, itu tak mungkin terjadi, hanyalah khayalanku saja tuk dapat melihat pesan singkatmu di Pagi hari dengan ucapan 'selamat pagi, mut' seperti dulu. Sudahlah aku bermimpi lagi. Tapi sampai saat ini aku masih bingung, apa yang membuat hubungan kita terhenti. Aku kah yang egois, atau kamu yang... entahlah! Aku tak mau lagi memikirkan hal yang sudah-sudah, hanya air mata yang mengalir.
Enam bulan berlalu tapi pikiranku tetap tertuju padamu. Kita menjalin lagi tapi kamu tersakiti. Aku seperti 'kesialan' untukmu, Masalalu. Kamu yang selalu di marahi wanita yang melahirkanmu karna adanya aku, entah dengan alasan apa, bertatap muka saja pun tak pernah, tapi seburuk itu kah aku? Sampahkah aku dimata Ibumu? Hah...! Aku yang ingin selalu mendapatkan perhatianmu tapi tak mengerti kondisi dan aktivitasmu. Aku yang membuatmu letih, lelah dan pusing karna kekanak-kanakanku. Aku yang men-tweet seluruh isi hatiku, seolah-olah memojokanmu, menulis semua secara frontal. Pasti kamu malu yaa :')
Tampar aku berkali-kali, agar aku sadar aku tak baik untukmu, tak pantas untuk sosok sepertimu. Cubit aku sekeras yang kau mau, agar aku tahu hanya mimpi menjadi kekasihmu lagi. Putuskan urat-nadiku, agar untuk selamanya aku tak akan memilikimu.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar