Selasa, 04 Februari 2014

Hai masalalu..

Terlihat sudah, terlihat semua omonganmu itu
Omongan yang dulu sangat aku percaya
Omongan manis yang membohongiku
Terlihat jelas dimana kemunafikkan berada

Omongan yang dulu kau bilang, "aku mencintaimu"
Omongan yang kau bisikkan ditelingaku
Tampak jelas semua bullshit,
Semua omong kosong belaka!

Mengapa kau tega membohongiku?
Membohongi perasaanku bahkan perasaanmu?
Mengapa tak kau bilang sejak awal?
Ini hanya tipu dayamu untuk menipu hatiku?

Tak ku sangka, kau yang pernah mengisi detik demi detik
Jam demi jam bahkan hari demi hari yang ku punya,
Berbohong dan menancapkan sebilah pisau hingga
menembus hatiku dan berbekas.

Apa tak pernah terlintas dihatimu ataupun pikiranmu,
betapa aku mencintaimu, setulus hatiku?
Apa kau hanya menginginkan harta?
Bukan hatiku yang mencintaimu, apa adanya dirimu?

Hai masalalu, yang telah melukaiku..
Tak pernah aku berdoa untuk datangnya karma pada dirimu
Melainkan kebahagiaan yang akan
menyelimuti hari-harimu

Hai masalalu, yang penuh kemunafikkan..
Tak pernah terlintas dalam anganku untuk sesuatu
yang buruk akan menimpamu
Hanya terlintas keajaiban yang indah akan merubah hidupmu :')


Minggu, 02 Februari 2014

Masa Laluku, Masa Kecilku.


Ketika aku terdiam, aku termenung
Dalam lamunanku terlintas
Akan masa laluku,
masa kecilku

Tawa dan senyum yang selalu terpancar
Riang suara yang selalu terdengar
Masa dimana semua orang merasakan
Yang akan menjadi kenangan,
Yang tak mudah dilupakan..

Namun masa laluku,
Masa kecilku..
Tak seindah yang mereka bayangkan
Disaat seharusnya aku bermain
Bersama teman-teman
Aku hanya bisa terdiam
Disudut rumahku
Masa laluku,
Masa kecilku
Yang sempat merasakan
Kebahagiaan..
Kini tinggal kenangan
Semua tak seperti dulu,
Semua berubah,
Semua terjadi..
Kebahagiaan ku lenyap,
Kebahagiaan ku pergi..
Menyisakan kesedihan teramat dalam
Air mata yang tak kunjung berhenti
Menyisakan ingatan manis
Yang tak mungkin terbuang

Kepergian ayah
Adalah awal semuanya..
Awal dimana kesedihan ku datang
Awal dimana air mata ku terus terurai
Awal dimana masa laluku,
Masa kecilku menjadi kenangan.

Berpura-pura.

Aku memberanikan diri untuk melangkah dan tak menghadap ke belakang. Aku menutup mata dan tak ingin melihat apa yang membuat hatiku terkekang. Aku mencoba untuk melupakan dan membenci apa yang menyakitkan. Aku melakukan semua yang sejujurnya tak aku inginkan. Aku seperti ini hanya ingin bangkit dari keterpurukan. Tapi... semua seperti menusukku terlalu dalam dan memaksaku untuk kembali memasuki lorong hitam.

Selamat Pagi, masalalu. Aku terbangun kembali di Pagi yang cerah, terbangun dari malam yang panjang, yang kulewati hanya memikirkanmu. Bukan langit kamar yang pertama kali kulihat, bukan juga bantal atau guling empuk yang terasa, tapi kamu; si masalalu penyejuk hati, si pengganggu pikiran. Hampir setiap kumelihat layar handphoneku, yang terpikir hanyalah dirimu, hanyalah kabarmu. Aku tahu, itu tak mungkin terjadi, hanyalah khayalanku saja tuk dapat melihat pesan singkatmu di Pagi hari dengan ucapan 'selamat pagi, mut' seperti dulu. Sudahlah aku bermimpi lagi. Tapi sampai saat ini aku masih bingung, apa yang membuat hubungan kita terhenti. Aku kah yang egois, atau kamu yang... entahlah! Aku tak mau lagi memikirkan hal yang sudah-sudah, hanya air mata yang mengalir.

Enam bulan berlalu tapi pikiranku tetap tertuju padamu. Kita menjalin lagi tapi kamu tersakiti. Aku seperti 'kesialan' untukmu, Masalalu. Kamu yang selalu di marahi wanita yang melahirkanmu karna adanya aku, entah dengan alasan apa, bertatap muka saja pun tak pernah, tapi seburuk itu kah aku? Sampahkah aku dimata Ibumu? Hah...! Aku yang ingin selalu mendapatkan perhatianmu tapi tak mengerti kondisi dan aktivitasmu. Aku yang membuatmu letih, lelah dan pusing karna kekanak-kanakanku. Aku yang men-tweet seluruh isi hatiku, seolah-olah memojokanmu, menulis semua secara frontal. Pasti kamu malu yaa :')

Tampar aku berkali-kali, agar aku sadar aku tak baik untukmu, tak pantas untuk sosok sepertimu. Cubit aku sekeras yang kau mau, agar aku tahu hanya mimpi menjadi kekasihmu lagi. Putuskan urat-nadiku, agar untuk selamanya aku tak akan memilikimu.